Sabtu, 24 September 2022

πŒπŽπƒπ”π‹ 𝐍𝐔𝐒𝐀𝐍𝐓𝐀𝐑𝐀 #𝟐 - ππ„π‘π“π”πŠπ€π‘π€π πŒπ€π‡π€π’πˆπ’π–π€ πŒπ„π‘πƒπ„πŠπ€ π”ππˆπ•π„π‘π’πˆπ“π€π’ 𝐆𝐀𝐃𝐉𝐀𝐇 πŒπ€πƒπ€

KOTAGEDE SEBAGAI PENYANGGA BUDAYA KOTA YOGYAKARTA

 


       Sebuah wilayah di bagian selatan Kota Yogyakarta yang dikenal dengan Kotagede ini menjadi salah satu tujuan dalam perjalanan kami sebagai peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Universitas Gadjah Mada dalam kegiatan Modul Nusantara kedua. Tepat pada tanggal 18 September 2022, di hari minggu yang cerah, kami berkumpul di Gedung Grha Sabha Pramana untuk memulai agenda hari itu yang meliputi kunjungan ke Masjid Gedhe Mataram dan ke salah satu perajin perak yang berada di dekat sana. Kedua tempat tujuan kami saat itu terletak di Kotagede. Apabila kita telaah secara etimologi, nama Kotagede ini terdiri dari dua kata, yaitu kota dan gede. Berdasarkan KBBI (2022), kata kota merujuk kepada daerah permukiman yang terdiri atas bangunan rumah sebagai kesatuan tempat tinggal dari berbagai lapisan masyarakat, sedangkan gede diartikan sebagai suatu hal yang besar. Sesuai arti dari namanya, wilayah ini termasuk wilayah yang memiliki perkembangan pesat hingga menjadi ramai dan makmur dalam perjalanan sejarahnya. Kotagede yang awalnya merupakan sebuah desa kecil dengan pendirinya yaitu Ki Ageng Pemanahan di tengah hutan hingga akhirnya setelah beliau wafat digantikan oleh putranya Senopati ing Alaga. Kebijaksanaan dari sistem kepemimpinannya membawa desa kecil ini menjadi wilayah yang maju, baik itu secara ekonomi, sosial, dan juga budaya sehingga membawa penduduk setempat ke arah kesejahteraan (Fathurrahman Nurul Hakim Akademi Pariwisata BSI Yogyakarta, 2018). Hal inilah yang menjadi latar belakang lahirnya banyak sejarah dan cagar budaya di wilayah ini sekaligus menjadi alasan mengapa tempat ini kami kunjungi. 

    Dimulai dari tujuan pertama perjalanan kami yaitu Masjid Gedhe Mataram yang secara geografis terletak di Dusun Sayangan, RT 04 Jagalan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Selanjutnya secara astronomis terletak pada koordinat X 0433674 dan koordinat Y 9134540 (Dwijo Rahmanto, 2022). Bangunan masjid ini memiliki komponen arsitektural unik yang terdiri atas lima bagian, meliputi kuncungan sebagai akses utama menuju bagian dalam masjid, jagang berupa kolam kecil yang mengelilingi serambi sisi utara, selatan, dan timur. Bagian serambi memiliki atap berbentuk limasan sebagai bangunan terbuka. Bangunan induk terdiri dari bangunan utama (liwan) yang memiliki mihrab dan bangunan khusus jemaah wanita (pawestren). Bagian terakhir adalah tempat wudhu yang berada di sisi utara dan selatan (Setyowati et al., 2017). Seiring dengan perkembangan zaman, masjid ini telah berulang kali mengalami revitalisasi, mulai dari tahun 1976 dilakukan penambahan bagian serambi depan sisi timur, tahun 1856 kembali dilakukan penambahan emperan dan pawudon, serta penggantian atap sirap, berlanjut dengan pembuatan pagar pada tahun 1926, rehabilitasi bangunan utama dan halaman masjid pada tahun 2002, dan revitalisasi terakhir telah dilakukan pada tahun 2003 yang ditandai dengan pendirian menara pengeras suara. Walaupun Masjid Gedhe Mataram ini secara umum sebagai tempat beribadah bagi teman-teman muslim, pembangunannya merupakan hasil akulturasi dari budaya Islam, Jawa, dan Hindu. Akulturasi tersebut mencakup ruang yang ditandai dengan adanya bangunan utama, bangunan serambi, dan emper. Kemudian juga mencakup akulturasi perilaku yang meliputi kebiasaan untuk beribadah, mencari berkah dari masjid, berziarah, dan wisata budaya (Rahman, 2020). Hadirnya budaya Islam inipun berpengaruh terhadap pembangunan kota Yogyakarta pada berbagai bidang kehidupan, mulai dari politik yang ditandai dengan hadirnya berbagai partai politik bernafaskan islam (Sultarini Rahayu and Angriani, 2020), bidang ekonomi dengan eksistensi kegiatan perdagangan hingga saat ini sebagai media penyebaran islam pertama kalinya, bidang sosial melalui penerapan hukum islam dan pelaksanaan upacara budaya bernafaskan islam, serta prinsip hidup nrimo, sabar, gotong royong, takwa, rembug bareng, tepa slira, dan ojo dumeh (Priyoto, 2012). Termasuk juga dalam bidang budaya yang dicirikan dengan perkembangan seni sastra, seni suara, dan seni musik islam yang pesat (Pongsibanne, 2017). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diikuti pula dengan kemunculan budaya-budaya baru. Satu hal yang menjadi pertanyaan adalah dapatkah eksistensi budaya islam tetap terjaga di tengah pesatnya arus perubahan ini? Tentunya hal ini sangat dipengaruhi oleh generasi mudanya terutama pada era society 5.0 ini dengan teknologi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Maka dari itu, terdapat beberapa sikap yang harus dimiliki oleh generasi muda dalam upaya menjaga eksistensi budaya Islam ini, meliputi disruptive mindset sebagai pola pikir yang selalu siap siaga terhadap segala situasi dan kondisi, self driving untuk menjadi individu atau SDM yang bermental good driver, dan reshape or create agar dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman (Suhadak, 2021).

    Warung perak 925 Yogyakarta menjadi tempat perajin perak Kotagede yang kami kunjungi usai berkegiatan di masjid setelah menempuh lima menit perjalanan. Senang bisa menyaksikan proses pembuatan kerajinan perak dari proses pemilihaan bahan, pembuatan kawat (silver wire making), pembuatan benang perak (fine wire making), pemilinan (twisting), penggepengan benang tampar (twisted wire flattening), pembuatan pola (pattern making), pembuatan ornamen (ornament making), pematrian (soldering), pembakaran (burning), perebusan (boiling), penyikatan (brushing), dan finishing/polishing (Andrew Devara Harmawan, 2021). Akibat keterbatasan waktu kami dalam berkunjung, tidak semua tahapan ini dapat kami saksikan secara langsung, hanya tahapan burning yang diperlihatkan pada saat itu, namun sebuah pengalaman yang luar biasa bagi saya dapat melihat proses pembuatan kerajinan perak secara langsung untuk pertama kalinya dari yang hanya memakai output kerajinan perak yang sudah jadi. Beberapa output tersebut, meliputi perhiasan, miniatur, patung, dan juga suvenir. Sebagai sebuah kota yang menjadikan kerajinan perak ini sebagai kebiasaan serta kesenian tradisional yang tumbuh dari ritual warga sejak dahulu, kota ini dijuluki sebagai “Jewellery of Jogja.”

    Setiap perjalanan selalu memberikan nilai yang indah untuk dikenang maupun diceritakan kembali untuk sekedar berbagi. Partisipasi dan sinergi menjadi hal yang menarik dari sekian banyak pembelajaran yang saya dapatkan saat itu. Bagaimana pembangunan kota sekaligus juga pelestarian cagar budaya tidak cukup hanya melibatkan satu pihak, misalkan saja hanya secara top down oleh pemerintah tanpa melibatkan masyarakat. Pelibatan masyarakat ini tentunya akan meningkatkan sense of belonging pada setiap individunya, yang pada akhirnya dapat memupuk rasa tanggung jawab terhadap eksistensi budaya yang berkembang hingga saat ini. Dukungan pemerintah sebagai stakeholder juga menjadi hal yang krusial untuk melakukan rebranding destinasi wisata, baik itu dalam tingkat pusat maupun daerah. Harapannya nilai partisipasi dan sinergi ini juga dapat kami terapkan selama menjalani kegiatan Pertukaran Mahasiswa Merdeka ini khususnya dalam implementasi Modul Nusantara. 

REFERENSI

Andrew Devara Harmawan, 2021. Industri Kerajinan Perak Kotagede sebagai Kawasan Pendukung Heritage Tourism Daerah 20–28.
Dwijo Rahmanto, 2022. Sejarah Masjid Gedhe Mataram.
Fathurrahman Nurul Hakim Akademi Pariwisata BSI Yogyakarta, M., 2018. Pelestarian Kotagede sebagai Pusat Pariwisata Heritage Kota Tua di Yogyakarta. Jurnal Khasanah Ilmu 9.
Pongsibanne, H.L.K., 2017. Islam dan Budaya Lokal.
Priyoto, 2012. Penerapan Konsep Kota Islami dan Pengaruhnya Terhadap Sosial Budaya Masyarakat. Untag Surabaya 1–6.
Rahman, A.A., 2020. Islam dan Budaya Masyarakat Yogyakarta Ditinjau dari Perspektif Sejarah. IAIN Syekh Nurjati Cirebon 1–16.
Setyowati, E., Hardiman, G., Murtini, T.W., 2017. Akulturasi Budaya pada Bangunan Masjid Gedhe Mataram Yogyakarta, in: Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia. Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia, pp. A011–A018. 
Suhadak, 2021. Memperkuat Eksistensi Pendidikan Islam pada Era Society 5.0. Post-Graduate Student of Islamic Religious Education University 1, 1–6.
Sultarini Rahayu, S., Angriani, R., 2020. Peran Organisasi Islam dalam Pengembangan dan Penerapan Hukum Islam di Indonesia 1–108.





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar